Salah Siapa? Penggunaan VAR di Premier League Melenceng

Salah Siapa? Penggunaan VAR di Premier League Melenceng – VAR lebih banyak mengundang masalah daripada menambahkan solusi di Premier League sejauh ini. Setelah 11 pekan berlangsung, telah tersedia begitu banyak ketentuan wasit yang justru merugikan tim, VAR tidak benar-benar membantu.

Salah Siapa? Penggunaan VAR di Premier League Melenceng

Suara-suara protes pun tak lagi terbendung. Misalnya protes Chelsea dikala Jorginho dianggap melanggar Gerard Deulofeu didalam kotak penalti, insiden ketiak Firmino yang offside, atau intervensi VAR untuk handball Delle Alli dan pelanggaran Yerry Minta pada duel Everton 1-1 Tottenham.

VAR mestinya menunjang wasit membawa dampak ketentuan lebih adil, tetapi yang berjalan justru sebaliknya. Ketika wasit membawa dampak satu ketentuan dan VAR bicara sebaliknya, wasit-wasit Premier League condong enggan mengubah ketentuan mereka.

Hal-hal seperti inilah yang jadi sumber masalah, menumpuk perlahan-lahan.

VAR Justru Merepotkan

Musim ini adalah musim debut VAR di Premier League, mengetahui akan tersedia lebih dari satu kekurangan. Namun, yang paling kentara adalah perbedaan utama pemakaian VAR.

Di Premier League, wasit utama yang tersedia di lapangan tidak bisa melihat tayangan lagi secara langsung. Dia cuma mendengar ketentuan wasit VAR yang berada di ruangan khusus.

Proses seperti ini rawan cacat, akan tersedia banyak ketentuan Agen Sbobetyang tidak adil. Penonton layar kaca tentu bisa melihat situasinya lebih mengetahui dan membawa dampak penilaian sendiri.

Tak Lagi Mendukung

Perjalanan VAR di Premier League ini tak luput dari perhatian analis Sky Sports, Jamie Carragher. Eks Liverpool ini dahulu menyuarakan dukungannya untuk VAR, tetapi saat ini terasa berubah pikiran.

“Saya tidak pernah menunjang VAR sepenuhnya. Saat itu aku terasa VAR wajib diberi kesempatan dan entah mengapa aku mendorong pemakaian VAR gara-gara banyak orang yang menolaknya,” ujar Carragher.

“VAR didatangkan untuk menunjang permainan, maksud aku bukan cuma pemain di lapangan, melainkan juga suporter, analis, dan pemilik klub.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *