Masalah Ekonomi Lebih Penting daripada Korupsi Bagi Malaysia?

Masalah Ekonomi Lebih Penting daripada Korupsi Bagi Malaysia? Malaysia dijadwalkan membubarkan parlemennya pada hari Sabtu (07/04) ini dan pemerintah kudu menyelenggarakan pemilihan lazim selambat-lambat 60 hari sehabis pembubaran.

Perdana Menteri Najib Razak sudah menyampaikan keinginannya agar pemilu berjalan lancar dan penduduk dapat mengimbuhkan nada dengan lancar.

“Saya meminta pemilihan lazim ini dapat ditunaikan teratur dan mulus, apapun pandangan politik yang ada, dan rakyat dapat mengambil ketentuan berdasarkan pertimbangan yang baik bukannya berdasarkan emosi,” kata Najib yang sudah jadi pemimpin sejak th. 2009.

Koalisi Barisan Nasional (BN) sudah memenangkan pemilu sejak th. 1957, namun didalam dua pemilihan paling akhir perolehan suaranya alami penurunan biarpun senantiasa jadi kebolehan dominan.

Salah satu pihak oposisi adalah Partai Keadilan Rakyat (PKR) mantan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim (1993-1998). Lewat wawancara telepon dengan Nuraki Aziz untuk BBC Indonesia, Wakil ketua PKR, Nurul Izzah Anwar, memprotes proses politik yang hanya menguntungkan BN.

“Jelas kasus utama yang dihadapi pihak oposisi di Malaysia menjelang pemilihan lazim yang dapat berkunjung adalah proses pilihan raya atau pemilu yang timpang, yang penuh dengan manipulasi.

“Kita baru saja selesai proses pensempadanan (penetapan batas daerah pemilihan) awal mulanya yang memandang kepada perubahan sempadan parlimen (batas daerah pemilihan parlemen) di semua Malaysia yang tidak berpelembagaan,” kata Nurul yang merupakan anak perempuan tertua Anwar Ibrahim, mantan pemimpin oposisi yang kini menjalani hukuman penjara didalam kasus sodomi.

Sebagian pihak memandang kesusahan kehidupan sehari-harilah yang lebih jadi perhatian utama para pemilih, layaknya dikatakan Prof Dato Dr Mohammad Redzuan Othman dari Universitas Malaya.

“Tekanan kepada kehidupan, biaya yang tinggi, GST (pajak atas mengonsumsi barang dan jasa), lapangan pekerjaan yang tidak memadai. Dan kita boleh simpulkan isu ekonomi merupakan isu yang mendominasikan pemilihan raya kali ini,” Othamn menjelaskan.

Akhir-akhir ini dilaporkan berjalan kenaikan harga barang, generasi muda sukar mendapatkan pekerjaan dan kalaupun berhasil bayarannya tidak memadai, selagi pekerja asing tetap masuk, agar sukar bagi penduduk Malaysia untuk memiliki rumah.

Korupsi diremehkan?

Perdana Menteri Najib menghadapi proses hukum terkait aliran dana senilai US$4,5 miliar atau Rp61 triliun di antaranya di Amerika Serikat, Singapura dan Swiss. Tetapi kasus yang dikenal dengan nama skandal 1MDB ini malahan tidak diproses di Malaysia sendiri.

Meskipun demikianlah Najib senantiasa menjanjikan yang paling baik bagi negaranya dengan mengubah Malaysia secara lebih menyeluruh.

“Jika kemenangan diberikan ke BN (Barisan Nasional), kita berjanji dapat melaksanakan yang terbaik, untuk melaksanakan perubahan yang lebih merangkul semua pihak dan komprehensif,” kata perdana menteri didalam info pers Jumat (06/04).

Pihak oposisi sendiri mengklaim pemberlakuan pajak Goods plus Services Tax (GST) atau pajak atas mengonsumsi barang dan jasa yang dikenakan pada hampir semua transaksi didalam proses produksi, dapat membuat pemilih membantu grup oposisi.

“Rakyat Malaysia sebenarnya amat terkesan dengan pengenalan cukai GST … ekonomi ini mengimbuhkan sebagai pemancing untuk mereka menyokong pihak oposisi,” kata Nurul Izzah yang sudah dua kali menjalani jaman jabatan sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Lembah Pantai.
Pertama kali oposisi bersatu

Pada pemilihan lazim kali ini, hampir semua grup oposisi bersatu, layaknya grup mantan Perdana Mahathir Mohamad dan PKR. Namun PAS, Partai Islam Se-Malaysia, yang di awalnya bergabung dengan koalisi, kini terlihat dari kubu itu dan lebih dekat ke koalisi yang memerintah.

Penggabungan kebolehan ini dipandang Mohammad Redzuan Othman sebagai suatu tonggak peristiwa baru didalam perpolitikan Malaysia.

“Tun Mahathir, yang pernah jadi perdana menteri sepanjang 22 tahun, saat ini ini mengetuai oposisi. Dan beliau berjaya menghimpun oposisi ini sebagai suatu kumpulan dan menamakan beliau sebagai pakar perdana menteri.

“Dan inilah kali pertama didalam peristiwa politik Malaysia dimana semua partai pembangkang, oposisi bersetuju,” kata Mohammad Redzuan Othman dari Universitas Malaya.

Langkah oposisi ini ditunaikan selagi kekuasaan koalisi BN tetap berkurang. Pada pemilu 2008, untuk pertama kalinya, mereka kehilangan mayoritas 2/3 kursi parlemen, tetapi di th. 2013 mereka kehilangan jumlah nada secara nasional dengan angka 47%, biarpun senantiasa mendapatkan 133 dari 222 kursi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *